Rel Virtual

 Yang dimaksud dengan rel virtual di sini bukan game kereta api. Kereta api yang dimaksud menggunakan roda ban, bukan roda besi, dan berjalan di atas jalan beraspal. Agar dapat berjalan seperti kereta api biasa, keretanya dilengkapi dengan teknologi sensor untuk mendeteksi dan mengikuti “rel” berupa garis – garis yang dicat sepanjang jalur. Teknologi yang dikembangkan di China ini merupakan gabungan antara tram dengan bus dan sering disebut “tram tanpa rel”. Tidak diperlukannya rel besi membuat biaya pembangunan dan perawatan sistem kereta api ini lebih rendah ketimbang tram konvensional. Tram tanpa rel ini baru saja di ekspor ke Qatar untuk digunakan pada acara Piala Dunia 2022.


Sumber: https://www.intelligentliving.co/china-art-t1-train-virtual-painted-tracks/


Rangkaiannya terdiri dari 3 sampai 5 gerbong yang memiliki kecepatan maksimum 70 kilometer per jam. 5 gerbong dapat memuat sebanyak 500 penumpang. Dua rangkaian dapat saling mengikuti tanpa adanya sambungan mekanis, seperti kereta api multiple unit. Kereta api ini dapat berjalan dua arah, dengan kabin masinis di kedua ujung rangkaian. Radius belok minimal kereta ini adalah 15 meter, sama seperti bis.

Selain sensor, rangkaiannya juga dilengkapi dengan setir agar masinis dapat mengemudikannya secara manual jika perlu merubah haluan. Terdapat pula Lane Departure Warning System yang membuat rangkaiannya tetap di jalurnya dan memberi peringatan secara otomatis jika keluar jalur. Jarak dengan kendaraan lain dapat terjaga berkat adanya Collision Warning System dan alarm peringatan akan bunyi jika kereta api terlalu dekat dengan kendaraan lain. Lalu lintas sepanjang jalur dapat dianalisa dengan adanya alat navigasi Route Change Authorization dan dapat memberi rute alternatif untuk menghindari kemacetan.

 Kereta apinya menggunakan teknologi baterai lithium titanate dan dapat berjalan sejauh 40 kilometer dengan sekali pengisian ulang penuh. Kabel listrik aliran atas tidak dibutuhkan, cukup tempat – tempat fast charger yang tersedia di beberapa stasiun sepanjang rutenya. Dibutuhkan waktu sekitar 30 detik untuk mengisi ulang baterai kereta api untuk perjalanan sejauh 3 kilometer. Teknologi ini cocok untuk diterapkan di sistem Bus Rapid Transit (BRT) seperti Trans Jakarta dan BRT di kota – kota Indonesia lainnya.


Mohon dukungannya melalui: https://trakteer.id/aldyuris


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendesaknya Kereta Api di Papua

Di Balik Perbedaan Lebar Rel

Hemat Biaya Dengan Tenaga Baterai